Menyikapi Motivasi Belajar di Awal Masuk Sekolah
Lalan Darhelan, S.Pd.
SDIT Asih Putera Cimahi
Tahun ajaran baru sudah di depan mata. Setiap sekolah menyiapkan program – programnya untukmenyambut para siswanya, baik yang baru ataupun lama. Bagi sekolah, siswa baru bagaikan seorang bayi yang baru lahir. Mereka perlu mendapatkan perhatian lebih agar dapat memberikan rasa aman pada diri mereka. Massa adapatasi yang harus mereka hadapi harus diciptakan se-enjoy mungkin. Sehingga kesan pertama dapat memikat mereka.
Sementara siswa yang lama, sebagai subjek pemelajaran yang sudah exist, tetap harus mendapatkan curahan perhatian dari phak sekolah. Bagaimana membuat lingkungan sekolah tetap kondusif bagi mereka. Masa liburan yang cukup lama kadang membuat motivasi pergi ke sekolah (baca: belajar) menurun. Karena tugas sudah menjadi tugas sekolah untuk menciptakan lingkungan yang merangsang kreatifitas mereka.
Selain menjadi tugas sekolah sebagai rumah kedua, peranan orang tuapun (keluarga) sangat penting untuk memberikan dorongan dan meinstall kembali belajar pada anak – anak mereka. Orang tua harus bertindak secara sinergis dengan pihak sekolah sehingga tidak ada treatment yang beda antara orang tua dan sekolah. Treatment terhadap siswa yang beda akan membuat siswa bingung dan memiliki dualisme standard penilaian. Hal ini akan mengganggu konsentrasi dan motivasi belajar mereka. Kita tahu bahwa motivasi belajar merupakan factor psikis yang bersifat non intelektual. Peranannya sangat khas dalam hal menumbuhkan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Dengan adanya tindakan yang sinergis antara orang tua dan sekolah, maka besar harapan kita motivasi belajar siswa akan cepat dan tetap stabil bahkan terus semangat.
Namun di sisi lain, tidak sedikit orang tua yang mengeluh tentang anak mereka. Cukup banyak anak yang merasa malas dan enggan untuk pergi ke sekolah dan inilah effek liburan yang cukup menghantui para orang tua pada nak – anak mereka. Memang tidak dipungkiri, liburan kadang memberikan double effect yang hebat pada anak – anak tertentu. Tetapi kita harus tetap semangat untuk mendorong anak – anak kita dan bersabar untuk terus berkoordinasi dengan sekolah dalam upaya menemukan strategy yang tepat dalam memotivasi mereka.
Salah satu strategy untuk membuat motivasi para siswa kuat adalah dengan memenuhi kebutuhan mereka. Dengan istilah lain kebutuhan untuk berpikir dan berusaha kearah kemandirian dan aktualisasi diri. Sesuai dengan kebutuhan itu, maka Maslommenciptakan piramida hierarki kebutuhan yang lebih lengkap. Hierarki tersebut yaitu; kebutuhan physiology, safety, love and belonging, self – esteem, self – actualization dan understanding and knowledge.
Dalam prosesnya, pemenuhan semua kebutuhan itu kadang terjadi dalam waktu yang bersamaan. Keadaan lingkungan yang nyaman dan aman sangat mempengaruhi bagi siswa untuk mendapatkan kebutuhannya yang lain. Oleh sebab itu, rasa safety pada siswa baik pisik maupun psikologi harus mendapat perhatian yang agak lebih.
Perlu ditegaskan bahwa setiap tingkatan itu dapat di bangkitkan apabila kita dapat memenuhi tingkatan sebelumya. Bila kita menginginkan para siswa belajar dengan baik, maka harus dipenuhi tingkatan terendah sampai yang tertinggi. Siswa yang lapar, merasa tidak aman, tidak dikasihi, tidak diterima sebagai anggota masyarakat kelas, goncang harga dirinya, tentu tidak akan dapat belajar secara baik.
Walaupun begitu, adanya pemenuhan kebutuhan yang tidak hierarkis mungkin saja terjadi, karena kondisi setiap siswa berbeda – beda. Perbedaan ini sebetulnya cukup menguntungkan, karena kita dapat berbagi pendekatan dengan orang lain. Sharing ini akan menambah wawasan dan informasi kita tentang dunia anak. Dengan panduan pendekatan yang dirumuskan oleh Maslow saja, itu sudah cukup bagi kita untuk melakukan tindakan nyata dalam menghadapi persoalan motivasi siswa.
Dengan memperhatikan pada pemenuhan kebutuhan siswa, maka kita berharap dapat membuat motivasi belajar mereka stabil dan meningkat. Tentunya kita juga akan lebih dekat dan memahami psikologi mereka. Kita dapat menjadi shahabat bagi hati mereka, sehingga dapat menjadi teman curhatnya. Akhirnya, kita berharap setiap tahun ajaran baru tidak ada lagi kendala atau persoalan yang berkaitan dengan motivasi belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar